Rabu, 18 Maret 2009

Di Sekolah Menengah Atas (SMA), penjurusan merupakan hal yang mendasar untuk membentuk suatu karakter tersendiri terhadap siswa-siswi agar ke depannya akan menjadi terfokus atau terspesialisasi pada suatu bidang yang ingin digeluti atau yang dikuasai oleh seorang siswa. Dalam spesialisasi ini, di harapkan siswa-siswi dapat menjadi lebih maju dan berkembang pada bidang di mana ia merasa nyaman dan mampu pada bidang tersebut.

Namun pada kenyataannya, sistem penjurusan yang diterapkan pada SMA tidak terealisasi dengan baik, bahkan juga dipengaruhi oleh gengsi para siswa. Dulu jurusan yang ada di SMA meliputi jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Namun seiring dengan berjalannya waktu, jurusan Bahasa sudah tidak diminati lagi oleh siswa sehingga kebanyakan sekolah menghapus jurusan tersebut.

Sekarang, pembagian jurusan hanya ada dua pilihan yaitu, jurusan IPA dan IPS. Dalam kenyataan yang ada, kebanyakan bahkan hampir semua siswa ingin masuk jurusan IPA. Beberapa alasanya yakni bila kita di jurusan IPA, kita akan mudah mendapatkan jurusan pilihan di perguruan tinggi nanti. Dan yang paling memprihatinkan adalah masalah gengsi. Katanya jurusan IPS adalah jurusan buangan, alias tempat pembuangan siswa-siswa yang bodoh, malas, nakal, dan sebagainya. Inilah salah satu faktor yang mendominasi siswa-siswa ingin ke jurusan IPA. Katanya juga, IPS itu singkatan dari ”Ikut Perintah Setan” dan IPA singkatan dari ”Ikut Perintah Allah”. Ya pastinya semua orang memilih IPA (bercanda).

Banyak siswa yang tidak mampu pada jurusan IPA masuk jurusan IPA, bahkan ada yang sampai-sampai melakukan tindakan sogok atau siswa yang memanfaatkan jabatan orang tua agar ia masuk jurusan IPA. Ini merupakan tindakan-tindakan yang harus disikapi tegas oleh pihak sekolah serta pihak yang berwenang.

Di SMAN 02 Makassar sendiri, di kelas XI/2, jurusan IPA terdiri dari 7 kelas sedang jurusan IPS hanya ada 2 kelas saja, itu pun dalam satu kelas hanya terisi 20-an siswa. Perbedaan tersebut terlihat sangat mencolok. Disisi lain, dengan status jurusan IPS sebagai jurusan buangan, para siswa yang ada di jurusan IPS akan kehilangan harapan untuk maju karena sudah merasa terbuang dan di cap sebagai anak bodoh. Mereka merasa bahwa belajar itu tidak ada gunanya lagi dan hanya membuang waktu saja. Alhasil, keinginan mereka untuk maju dan berkembang pudar.

Di sinilah peran pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan kita di Indonesia. Dalam kasus seperti ini, diharapkan pemerintah mampu membuat langkah yang cepat dan cermat dalam menindaklanjuti sistem pendidikan terutama Sekolah Menegah Atas ini.



Selasa, 2009 Januari 27

permasalahan remaja di sekolah

Sudah cukup lama dirasakan adanya ketidakseimbangan antara perkembangan intelektual dan emosional remaja di sekolah menegah (SLTP/ SLTA). Kemampuan intelektual mereka telah dirangsang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan prasarana yang disiapkan di rumah dan di sekolah. Mereka telah dibanjiri berbagai informasi, pengertian-pengertian, serta konsep-konsep pengetahuan melalui media massa (televisi, video, radio, dan film) yang semuanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para remaja sekarang. Dari segi fisik, para remaja sekarang juga cukup terpelihara dengan baik sehingga mempunyai ukuran tubuh yang sudah tampak dewasa, tetapi mempuyai emosi yang masih seperti anak kecil. Terhadap kondisi remaja yang demikian, banyak orang tua yang tidak berdaya berhadapan dengan masalah membesarkan dan mendewasakan anak-anak di dalam masyarakat yang berkembang begitu cepat, yang berbeda secara radikal dengan dunia di masa remaja mereka dulu. 

Masalah Remaja Di Sekolah Remaja yang masih sekolah di SLTP/ SLTA selalu mendapat banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku. Berikut ada lima daftar masalah yang selalu dihadapi para remaja di sekolah.

  1. Perilaku Bermasalah (problem behavior). Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri.
  2. Perilaku menyimpang (behaviour disorder). Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.
  3. Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA).
  4. Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder). Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
  5. Attention Deficit Hyperactivity disorder, yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.


Peranan Lembaga Pendidikan Untuk tidak segera mengadili dan menuduh remaja sebagai sumber segala masalah dalam kehidupan di masyarakat, barangkali baik kalau setiap lembaga pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) mencoba merefleksikan peranan masing-masing.

Pertama, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama.
Kehidupan kelurga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis akan menyebebkan anak tidak kerasan tinggal di rumah. Anak tidak mersa aman dan tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Akibatnya, anak mencari bentuk ketentraman di luar keluarga, misalnya gabung dalam group gang, kelompok preman dan lain-lain. Banyak keluarga yang tak mau tahu dengan perkembangan anak-anaknya dan menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah. Kiranya keliru jika ada pendapat yang mengatakan bahwa tercukupnya kebutuhan-kebutuhan materiil menjadi jaminan berlangsungnya perkembangan kepribadian yang optimal bagi para remaja.

Kedua, bagaimana pembinaan moral dalam lembaga keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kontras tajam antara ajaran dan teladan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku, dan moralitas para remaja. Kurang adanya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan para orangtua ataupun pendidik di sekolah menjadi faktor kunci dalam proses perkembangan kepribadian remaja. Secara psikologis, kehidupan remaja adalah kehidupan mencari idola. Mereka mendambakan sosok orang yang dapat dijadikan panutan. Segi pembinaan moral menjadi terlupakan pada saat orang tua ataupun pendidik hanya memperhatikan segi intelektual. Pendidikan disekolah terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran, sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.

Ketiga, bagaimana kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat apakah mendukung optimalisasi perkembangan remaja atau tidak.
Saat ini, banyak anak-anak di kota-kota besar seperti Jakarta sudah merasakan kemewahan yang berlebihan. Segala keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Kondisi semacam ini sering melupakan unsur-unsur yang berkaitan dengan kedewasaan anak. Pemenuhan kebutuhan materiil selalu tidak disesuaikan dengan kondisi dan usia perkembangan anak. Akibatnya, anak cenderung menjadi sok malas, sombong, dan suka meremehkan orang lain.

Keempat, bagaimana lembaga pendidikan di sekolah dalam memberikan bobot yang proposional antara perkembangan kognisi, afeksi, dan psikomotor anak.
Akhir-akhir ini banyak dirasakan beban tuntutan sekolah yang terlampau berat kepada para peserta didik. Siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga dipaksa oleh orangtua untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan mengikuti les tambahan di luar sekolah. Faktor kelelahan, kemampuan fisik dan kemampuan inteligensi yang terbatas pada seorang anak sering tidak diperhitungkan oleh orangtua. Akibatnya, anak-anak menjadi kecapaian dan over acting, dan mengalami pelampiasan kegembiraan yang berlebihan pada saat mereka selesai menghadapi suasana yang menegangkan dan menekan dalam kehidupan di sekolah.

Kelima, bagaimana pengaruh tayangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai kebrutalan.
Pengaruh-pengaruh tersebut maka munculah kelompok-kelompok remaja, gang-gang yang berpakaian serem dan bertingkah laku menakutkan yang hampir pasti membuat masyarakat prihatin dan ngeri terhadap tindakan-tindakan mereka. Para remaja tidak dipersatukan oleh suatu identitas yang ideal. Mereka hanya himpunan anak-anak remaja atau pemuda-pemudi, yang malahan memperjuangkan sesuatu yang tidak berharga (hura-hura), kelompok yang hanya mengisi kekosongan emosional tanpa tujuan jelas.

Apa Jalan Keluar Kita?

Siswa-siswi SLTP/SLTA adalah siswa-siswi yang berada dalam golongan usia remaja, usia mencari identitas dan eksistensi diri dalam kehidupan di masyarakat. Dalam proses pencarian identitas itu, peran aktif dari ketiga lembaga pendidikan akan banyak membantu melancarkan pencapaian kepribadian yang dewasa bagi para remaja. Ada beberapa hal kunci yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan.

Pertama, memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama.
Sikap mau berdialog antara orangtua, pendidik di sekolah, dan masyarakat dengan remaja pada umumnya adalah kesempatan yang diinginkan para remaja. Dalam hati sanubari para remaja tersimpan kebutuhan akan nasihat, pengalaman, dan kekuatan atau dorongan dari orang tua. Tetapi sering kerinduan itu menjadi macet bila melihat realitas mereka dalam keluarga, di sekolah ataupun dalam lingkungan masyarakat yang tidak memungkinkan karena antara lain begitu otoriter dan begitu bersikap monologis. Menyadari kekurangan ini, lembaga-lembaga pendidikan perlu membuka kesempatan untuk mengadakan dialog dengan para remaja, kaum muda dan anak-anak, entah dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Kedua, menjalin pergaulan yang tulus.
Dewasa ini jumlah orang tua yang bertindak otoriter terhadap anak-anak mereka sudah jauh berkurang. Namun muncul kecenderungan yang sebaliknya, yaitu sikap memanjakan anak secara berlebihan. Banyak orang tua yang tidak berani mengatakan tidak terhadap anak-anak mereka supaya tidak dicap sebagai orangtua yang tidak mempercayai anak-anaknya, untuk tidak dianggap sebagai orangtua kolot, konservatif dan ketinggalan jaman.

Ketiga, memberikan pendampingan, perhatian dan cinta sejati.
Ada begitu banyak orangtua yang mengira bahwa mereka telah mencintai anak-anaknya. Sayang sekali bahwa egoisme mereka sendiri menghalang-halangi kemampuan mereka untuk mencintaianak secara sempurna. "Saya telah memberikan segala-galanya", itulah keluhan seorang ibu yang merasa kecewa karena anak-anaknya yang ugal-ugalan di sekolah dan di masyarakat. Anak saya anak yang tidak tahu berterima kasih, katanya.
Yang perlu dipahami bahwa setiap individu memerlukan rasa aman dan merasakan dirinya dicintai. Sejak lahir satu kebutuhan pokok yang yang pertama-tama dirasakan manusia adalah kebutuhan akan "kasih sayang" yang dalam masa perkembangan selanjutnya di usia remaja, kasih sayang, rasa aman, dan perasaan dicintai sangat dibutuhkan oleh para remaja. Dengan usaha-usaha dan perlakuan-perlakuan yang memberikan perhatian, cinta yang tulus, dan sikap mau berdialog, maka para remaja akan mendapatkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk terbuka dalam mengungkapkan pendapatnya.

Lewat kondisi dan suasana hidup dalam keluarga, lingkungan

uji syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan pada kita semua terutama Team Tabloid Smart Education sehingga dengan kemudahan yang dilimpahkan oleh-Nya kami Team Tabloid Smart Education akhirnya bisa menyelesaikan Tabloid Smart Education Edisi perdana (I), Tahun ke I 2009 yang akhirnya bisa hadir di tengah-tengah pembaca….

perlu diketahui lahirnya Tabloid Smart Education hadir ditengah kita, untuk menjawab tantangan dari dunia usaha yang tidak asing lagi bagi kita dan tentunya juga tantangan dunia pendidikan yang mempunyai hubungan secara langsung. Disamping itu juga hadirnya Tabloid Smart Education sebagai pengganti Majalah Siswa yang dirasa kurang mendapat tantangan dan tanggapan atau respopon dari masyarakat luas, karena isi dari majalah siswa mayoritas berita dari lingkungan sekolah sendiri. Nah untuk itu mudah-mudahan dengan hadirnya Tabloid Smart Edication bisa memberikan berita yang menarik untuk dibaca terutama Dunia Usaha sebagai patner Sekolah Menengah Kejuruan dan dunia Pendidikan secara luas khususnya pelajar SMP dan SMK.


Dalam kesempatan yang baik ini perlu di jelaskan, bahwa menu yang akan kita sajikan dalam Tabloid Smart Education adalah mayoritas dunia pendidikan tertama prestasi yang diraih oleh siswa tanpa terkecuali, hanya saja lingkup yang kita sajikan memang hanya berita tentang pelajar atau karya dari siswa SMP dan SMK sebagai sajian utamanya. Sedang sekolah selain tersebut diatas akan kita berikan tidak terlalu mewarnai dalam Tabloid ini. Alasan mengapa demikian, hal ini dikarenakan kita sengaja menampilkan dunia SMK kepada siswa pelajar SMP dan masyarakat luas, menumbuhkan cinta terhadap SMK dan menaruh hati pilihannya ke dunia SMK yang semakin luas dan semakin menarik untuk di perdalam baik ilmu maupun ketrampilannya. Disamping itu juga Tabloid Smart Education memberikan gambaran dan image masyarakat yang katanya SMK itu kurang baik dan selalu mendapat posisi anak tiri di masyarakat.

SMK atau Sekolah Menegah Kejuruan diharapkan bisa menjawab tantangan Dunia Usaha dan Dunia Industri terutama untuk menyiapkan tenaga terampil atau tenaga kerja siap pakai. Hal ini dikarenakan SMK merupakan sekolah yang memberikan 60 persen dari kegiatan pembelajarannya dengan teori dan 40 persen pembelajarannya dengan praktek. Ketrampilan diarahkan pada ketrampilan individual siswa yang pada akhirnya siswa bisa mengatasi tantangan hidup setelah terjun di tengah-tengah masyarakat. Bagi siswa yang tidak menginginkan untuk bekerja atau pegawai bisa diarahkan ke dalam dunia Wirausaha, mengapa? Karena di SMK ada pembelajaran cara berwirausaha yang baik.

Ketrampilan wirausaha ini dimaksudkan untuk memberikan ketrampilan sekaligus membina mentalitas wirausaha sejati pada siswa, dan diharapkan kelak bisa membuka usaha, sehingga dengan dibukanya usaha bisa mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa, bisa memberikan kesempatan pada masyarakat sekitar untuk bergabung sebagai tenaga kerja dalam arti membuka peluang kerja. Bila semua berjalan dengan baik, maka kelak akan bisa membantu pemerintah dalam menekan angka kemiskinan, menekan angka pengangguran dan akan mengurangi kesenjangan sosial yang berdapak pada kriminalitas.
Selain kegiatan tersbut diatas Sekolah Mengah Kejuruan mempunyai Bursa Kerja Khususs (BKK) yang memberikan informasi dunia kerja atau informasi lowongan pekerjaan. Hal ini merupakan salah satu tujuan dari SMK untuk mendekatkan antara pemakai tenaga (Dunia Usaha dan Industri) dengan yang memberi produk dalam bentuk tenaga kerja dalam hal ini adalah sekolah. Disamping itu juga BKK merupakan kepanjang tanganan dari Disnakertrans untuk memberikan informasi yang menarik terutama tentang dunia kerja baik dalam negeri maupun luar negeri.
Sekolah Menengah pertama (SMP) yang kita libatkan merupakan calon siswa SMK, banyak seidikitnya peminat SMK secara luas. Agar informasi tidak putus ditengah jalan maka Tabloid Smart Education ini memberikan kesempatan siswa SMP atau pelajar yang masih duduk di bangku SMP bisa memberikan kontribusi berita baik tentang dunia pendidikan di SMP maupun saran tentang pendidikan di SMK. Yang tak kalah menariknya adalah siswa yang sudah masuk di SMK bisa memberikan cerita kapada adik-adik yang masih duduk di bangku SMP, bahwa dunia SMK memang beda, banyak program jurusan untuk dijadikan pilihannya yang dihubungkan dengan cita-cita.
Wartawan untuk Tabloid Smart Education menggunakan reporter dari siswa yang tergabung di Aliansi Jurnalis SMP dan SMK yang dikemas dalam acara Diklat pendidikan Dasar Jurnalis yang dilaksanakan setiap tahun. Dengan cara ini setiap sekolah berhak mengirimkan satu atau dua siswa untuk mengikuti acara tersebut. Pada akhirnya berita kita sebar dengan menggunakan fasilitas pengiriman berita lewat e-mail tabloid SmartEducationTabloid@gmail.com. Dengan cara itulah kita bisa membangun dunia pendidikan dengan prestasi yang di kemas dalam satu wadah yaitu Tabloid Smart Education

Kurikulum Pendidikan Sekolah


KURIKULUM Pendidikan sekolah khususnya pada tingkat menengah dan atas pada saat ini telah banyak mengalami perubahan. Penilaian kemampuan siswa tidak hanya bertumpu pada hasil ulangan atau ujian semata namun lebih luas lagi yaitu pada pemahaman, kemampuan nalar, keterampilan, kepribadian serta kegiatan lain yang menunjangnya. Oleh karena itu, kurikulum sekolah saat ini membagi pelajaran menjadi beberapa kelompok sebagai master pelajaran dan setiap master pelajaran tersebut memiliki sub pelajaran dengan beberapa aspek penilaian sesuai dengan target yang ingin dicapai. Tidak hanya itu, kegiatan ekstrakurikuler pun menjadi bagian dari sistem penilain pendidikan saat ini.

Perubahan konsep pendidikan ini tentu sangat positif bagi peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa sekaligus menuntut para pendidik untuk lebih meningkatkan kemampuan keilmuannya serta kepekaannya terhadap siswa. Namun di sisi lain hal tersebut tentu akan lebih menuntut pihak sekolah dan para pendidik dalam hal managemen atau adminstrasi sekolah yang berkaitan dengan data nilai siswa karena komponen penilaian siswa semakin banyak.

Dengan perangkat lunak Acatech CCM, pihak sekolah maupun para pendidik akan lebih mudah mendokumentasikan seluruh data yang berkaitan dengan penilaian mata pelajaran dan kegiatan sekolah lainnya. Data nilai siswa yang jumlahnya sangat banyak akan lebih mudah dicek, direview atau diupdate kapan saja dan dicetak atau dilaporkan sesuai kebutuhan. Dalam hal ini, para pendidik akan dapat lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya yaitu mengajar dan pihak sekolah tidak akan terlalu direpotkan dalam hal sistem kearsipan data nilai tersebut.
Lebih jauh lagi kami berharap Acatech CCM dapat membantu dan mendukung pihak sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan mendata atau melakukan proses adminstrasi seluruh hal yang berkaitan dengan kurikulum sekolah dengan lebih baik dan rapih.

Selasa, 14 Oktober 2008 16:50 WIB

Seluruh Sekolah Menengah di Jakarta Tersambung Internet 2009

JAKARTA--MI: Pemprov DKI menargetkan seluruh sekolah menengah di Jakarta tersambung internet pada 2009.

Target kami pada 2009 adalah semua sekolah tersambung dengan teknologi informasi dan komunikasi dan semua guru bisa membuat bahan ajar multimedia, papar Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Margani Mustar seusai Pencanangan Komunitas Pendidikan Menegah Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Jakarta di Balaikota, Selasa.

Saat ini seluruh SMA/SMK negeri sudah tersambung dengan internet sedangkan sekolah swasta baru 70 persen.

Untuk sementara, kami akan menumbuhkan kultur multimedia terlebih dahulu, kata Margani.

Dengan menggandeng berbagai pihak, Dinas Dikmenti mengembangkan sistem TIK yang terintegrasi yang bisa dimanfaatkan siswa dalam proses belajar di sekolah.

Pengadaan fasilitas fisik juga menjadi prioritas Dinas Dikmenti di mana kini jumlah komputer yang disalurkan ke sekolah sebanyak lebih dari 10 ribu unit, lebih dari 7 ribu guru telah memiliki laptop serta lebih dari 100 sekolah telah memiliki layanan hot spot.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyebut pencanangan program tersebut penting karena TIK merupakan bagian dari tuntutan perkembangan di masyarakat.

Ini adalah bagian dari tuntutan masyarakat, jadi ini hal positif yang mencerminkan keinginan masyarakat akan kemudahan teknologi, katanya.

Untuk Jakarta, Fauzi menyebut bahwa ketersediaan fasilitas TIK bukan menjadi suatu masalah apalagi setelah DKI mengembangkan sistem jaringan fiber optic.

Dengan adanya fiber optic tadi yang akan dibangun dimana-mana maka perpustakaan bisa terkoneksi ke sekolah, kata Gubernur memberi contoh.

Tujuan jangka panjang dari sistem jaringan itu disebutnya adalah untuk menjadikan sekolah sebagai sumber informasi yang lengkap bagi murid maupun guru. (Ant/OL-02)

Sumber: Media Indonesia Online
http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzY0OTI=